+62 21 809-4741
utsmanipusat@gmail.com

Akhlak Mulia dan Tutur Kata yang Baik Memberatkan Timbangan

Ada lagi satu amalan yang berpahala besar dan berat dalam timbangan. Apa itu? Yaitu akhlak mulia dan berkata yang baik.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134. Syaikh Al-Abani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jaami’ no. 5726.)

Dalam riwayat Tirmidzi—haditsnya dinyatakan hasan shahih—disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”

 

Faedah hadits:

1- Contoh husnul khuluq atau berakhlak yang baik sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah bin Al-Mubarak adalah:

  • senyum manis
  • melakukan yang makruf (kebajikan)
  • menghilangkan gangguan

2- Yang dimaksudkan dengan hadits di atas adalah yang berat pahalanya dalam mizan (timbangan).

3- Allah mencintai dan meridhai orang yang berakhlak mulia.

4- Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya.

5- Mizan (timbangan) amalan itu ada dan wajib diimani.

Sumber : https://rumaysho.com/16991-akhlak-mulia-dan-tutur-kata-yang-baik-memberatkan-timbangan.html

Read more

Agar Dapur Tertata Rapi

Dapur yang tertata rapi dengan penempatan peralatan dan bahan-bahan dapur yang tepat bisa meningkatkan efisiensi memasak, selain membuatnya enak dipandang. Jika Anda di dapur menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari-cari perkakas atau bahan-bahan dapur daripada untuk memasak, berarti dapur Anda belum cukup tertata. Tips menata ruang dapur berikut ini bukan hanya berfokus pada penampakan luar dapur, melainkan juga mengupas cara menata bagian dalam kabinet dan laci dapur.

Cara menata ruang dapur

Mengingat dapur sebagai bagian yang sangat fungsional sebuah rumah, penataan dapur tidak cukup hanya bertujuan membuat dapur tampak cantik, tetapi juga perlu mempertimbangkan kepraktisannya. Penampilan cantik sebuah dapur bisa dinikmati siapa saja, sedangkan kepraktisan dapur bisa dirasakan pemakai dapur ketika memasak.

Prinsip-prinsip cara menata dapur agar cantik:

  • Bersih. Kebersihan dapur mutlak menjadi prioritas utama karena dapur merupakan tempat menyimpan dan menyiapkan makanan. Bersihkan meja dapur, lemari es, sekitar kompor, lantai, dan permukaan-permukaan lain dengan produk pembersih, seperti Cif, setiap kali Anda selesai memasak.
  • Kering. Area sekitar wastafel cuci piring rawan menjadi becek. Bila mungkin, letakkan rak khusus di atas atau dekat wastafel untuk meniriskan perkakas yang baru dicuci sehingga tetesan airnya tidak meluber ke mana-mana. Segera lap ceceran air supaya tidak meninggalkan noda air kering atau kerak kapur.
  • Bebas bau. Uap masakan yang terlalu pekat bisa meninggalkan bau di dapur dan ruang-ruang lain. Gunakan bahan-bahan atau produk penyerap bau dan usahakan sirkulasi udara di dapur lancar agar uap terbawa angin ke luar rumah.
  • Ringkas. Sembunyikan sebanyak mungkin objek dapur agar tidak berserakan. Anda bisa mempertimbangkan mengganti rak piring terbuka dengan lemari, kabinet, dan laci dapur untuk menyimpan peralatan masak dan bahan-bahan dapur. Jika ruang penyimpanan terbatas, Anda bisa menyiasatinya dengan menggantung peralatan masak di dinding tanpa mengabaikan estetika. Pindahkan kelebihan masakan ke wadah dan simpan di dalam kulkas, daripada membiarkannya di dalam panci yang digeletakkan begitu saja.

Menata dapur untuk mewujudkan kepraktisan pada dasarnya menaruh peralatan masak dan bahan-bahan dapur agar mudah ditemukan dan dijangkau.

  • Garam, lada bubuk, dan bumbu-bumbu siap pakai sebaiknya disimpan di dekat kompor. Begitu juga dengan peralatan masak utama, seperti wajan dan panci andalan.
  • Peralatan makan bisa disimpan lebih jauh dari kompor tetapi dekat dengan tempat cuci piring.
  • Loyang dan peralatan panggang lebih baik disimpan di dekat oven.
  • Simpan perkakas dapur yang jarang dipakai di tempat yang lebih tersembunyi di dalam lemari.

Tips menata peralatan dapur di dalam kabinet dan laci

Menata dapur menjadi lebih mudah jika Anda memiliki cukup tempat penyimpanan. Laci lebih baik daripada lemari karena barang-barang yang disimpan di laci terlihat dari atas sehingga lebih mudah ditemukan dan dijangkau. Sebaliknya, benda-benda di pojok belakang lemari tidak terlihat dan sulit diraih. Walau begitu, kabinet dinding tetap diperlukan untuk memanfaatkan ruang dapur sebaik mungkin.

Menata kabinet dinding dapur:

  • Alokasikan satu kabinet untuk bumbu-bumbu kering siap pakai, tepung, dan biji-bijian. Simpan setiap jenis bahan tersebut di stoples-stoples transparan. Minyak-minyakan dan saus botolan bisa juga masuk dalam kabinet ini.
  • Sediakan satu kabinet untuk persediaan kopi, teh, makanan kaleng, dan makanan instan. Anda bisa membiarkan bahan-bahan ini di kemasan aslinya sehingga Anda bisa melacak tanggal kedaluwarsanya.
  • Taruh bahan-bahan yang jarang dipakai di lokasi paling tinggi di dalam kabinet dinding, bukan di atas kabinet dinding!

Menata laci dapur:

  • Gunakan penyekat di dalam laci teratas untuk mengelompokkan sendok makan, sendok teh, garpu, pisau makan, pisau dapur, sendok sayur, dll. Pastikan Anda menyimpan benda-benda tajam di laci yang jauh dari jangkauan anak-anak atau di laci yang bisa dikunci
  • Laci-laci yang lebih besar bisa dipakai untuk menyimpan tumpukan panci, wajan, wadah-wadah plastik, dll.
  • Manfaatkan ruang di bawah wastafel untuk menyimpan produk-produk pembersih. Pastikan ruang ini terkunci agar tidak bisa dijangkau anak-anak.

 

sumber : https://www.cleanipedia.com

Read more

Abu Jahal Pun Berdo’a

Sehari sebelum perang Badar berkecamuk, Abu Jahal (atau Abu Al-Hakam menurut julukan orang-orang musyrik Mekah) sempat berdoa dengan redaksi sebagai berikut,

اللَّهُمَّ أَقْطَعُنَا الرَّحِمَ وَآتَانَا بِمَا لَا نَعْرِفُهُ فَأَحِنْهُ الْغَدَاةَ

“Ya Allah, orang yang paling memutuskan tali silaturahmi di antara kami dan yang paling membawa (gagasan/ide) teraneh (pemikiran paling bid’ah) yang tidak kami kenal, maka binasakanlah dia esok hari”

Ini adalah doa “mubahalah” ala Abu Jahal. Dia bermaksud meminta kepada Allah agar membinasakan siapa yang tersesat, apakah kelompoknya di kalangan pasukan Quraisy ataukah kelompok kaum muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad ﷺ.

Akhirnya sejarah mencatat bahwa Abu Jahal tewas dalam perang Badar dan kaum musyrik Quraisy kalah secara memalukan dalam pertempuran tersebut.

Kisah ini terekam dalam Musnad AhmadMushonnaf Ibnu Abi SyaibahSiroh Ibnu HisyamAr-Rohiqu Al-Makhtum dan kitab-kitab siroh Nabi ﷺ yang lain.

Ada beberapa pelajaran penting berdasarkan kisah Abu Jahal ini. Di antaranya,

Pertama, makna kafir itu bukan dibatasi pada orang yang tidak percaya Allah saja. Abu Jahal percaya kepada Allah, bahkan berdoa kepada-Nya. Kendati demikian Allah dan Rasul-Nya menyebut Abu Jahal kafir.

Kedua, makna kafir bukan dibatasi pada orang yang tidak beragama saja. Abu Jahal beragama. Percaya kepada Tuhan dan beribadah kepadanl-Nya. Orang yang mengakui adanya Tuhan, mengenal Tuhan dan bahkan beribadah menyembah-Nya bertahun-tahun bisa jadi tetap jatuh pada kekafiran. Buktinya Iblis. Makhluk ini adalah tipikal orang yang percaya Tuhan, mengenalnya, bahkan bisa “berdialog” dengan-Nya, serta menyembah-Nya mungkin selama ribuan tahun. Namun gara-gara arogansi dan pembangkangannya, Allah memurkainya dan mencapnya sebagai kafir.

Ketiga, orang yang jelas dalam kesesatan kadang tidak menyadari kesalahannya. Dia terus merasa dalam kebenaran sampai menjelang kematiannya. Abu Jahal tidak merasa dirinya salah. Malah dengan sangat percaya diri berdoa kepada Allah untuk membinasakan orang yang justru berada dalam kebenaran dan dicintai Allah.

Keempat, orang tersesat pun memiliki standar-standar “kebenaran” yang ia yakini dan perjuangkan. Pada doa Abu Jahal tadi, dia meyakini bahwa memutus silaturrahim adalah salah. Dia juga meyakini bahwa menggagas ide baru yang merusak adalah mengacaukan masyarakat. Dia melihat orang yang masuk Islam kadang hubungannya menjadi renggang dengan kerabatnya, suami terpisah dengan istrinya, orang tua terpisah dengan anaknya, paman bermusuhan dengan keponakannya dan sebagainya. “gagasan baru” Muhammad menurut Abu Jahal membawa perpecahan, mengusik kedamaian dan menimbulkan problem “disintegrasi”.

Kelima, kalau begitu, bagaimana menjamin diri memperoleh standar kebenaran sejati? Rasulullah ﷺ dan para shahabat jelas benar dan diridhai Allah. Abu Jahal dan kawan-kawannya jelas kafir dan dimurkai Allah. Oleh karena itu, hal ini memberi petunjuk sederhana bahwa ukuran menilai kebenaran harus dikembalikan kepada wahyu. Kesalahan Abu Jahal adalah tidak mau beriman kepada Rasulullah ﷺ sehingga standar salah-benar yang ia miliki adalah pertimbangan akalnya sendiri, bukan wahyu dari Allah. Rasulullah ﷺ dan para Shahabat berada dalam kebenaran karena mereka percaya kepada wahyu yang turun kepada Rasulullah ﷺ dan menjadikannya sebagai standar dalam menilai salah-benar.

Keenam, definisi kafir dalam konteks beragama yang diajarkan Islam adalah orang yang tidak mau mempercayai Nabi Muhammad ﷺ sebagai utusan Allah dan mengikutinya. Abu Jahal disebut kafir bukan karena tidak percaya Tuhan, tetapi tidak mau percaya kepada Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Utusan Allah. Maka semua agama selain Islam pemeluknya disebut kafir karena faktor ini.

Ketujuh, kadang perdebatan antara orang yang berada dalam kebenaran dengan orang yang berada dalam kesesatan tidak selesai pada tataran dialog pemikiran saja, tetapi diselesaikan dengan saling mendoakan laknat atau yang disebut dengan istilah Mubahalah. Pada level ini orang yang yakin berada dalam kebenaran tidak pernah ragu selangkahpun untuk menyambut tantangan Mubahalah.

Kedelapan, benturan antara kebenaran dan kebatilan jangan disangka akan berhenti pada level pemikiran dan dialog semata. Sejarah menunjukkan, kadang pertempuran dua pemikiran itu pada akhirnya mencapai konfrontasi fisik juga.

#######

Muafa
19 Rabi’u Ats-Tsani 1438 H

 

Sumber: http://irtaqi.net

Read more

Bersegera dalam kebaikan

Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Lalu, beliau menjawab, “Bersedekah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Salah satu pelajaran yang terkandung dalam hadis yang diriwayat dari Abu Hurairah di atas, menganjurkan kepada kita untuk bersegera bersedekah dan melakukan amal-amal baik lainnya. Tegasnya, berbuat baik jangan ditunda-tunda. Harus segera dilaksanakan.

Hal ini selaras dengan firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 148, “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.”

Dalam hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Perlahan-lahan dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam perbuatan yang berkenaan dengan akhirat.” (H.R. Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim).

Bila kita menunda-nunda amal kebaikan bisa menjadikan amal baik yang akan kita lakukan itu tidak terlaksana. Itu karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput diri kita.

Dalam Rangka Menyambut Datangnya Bulan Suci Ramadhan 1439 Hijriyah. LAZ DPU KALTIM CAB.SMD Melaksanakan Sosialisasi Zakat,Infaq & Sedekah dan Program Program Ramadhan Berkah. Antusias yang begitu tinggi dari pengunjung GOR MADYA SEMPAJA mulai dari konsultasi hingga berdonasi.Terimakasih donatur atas kepercayaan donasi anda kepada kami.

Order dan pesan mulai dari sekarang program Ramadhan pilihan anda dan akan kami salurkan pada Bulan Suci Ramadhan.

Program Ramadhan Berkah LAZ DPU KALTIM:
Buka Puasa Donasi mulai Rp.50.000
Bingkisan Lebaran Donasi mulai Rp.175.000
Wisata Belanja Donasi mulai Rp.175.000
Tebar Qur’an Donasi mulai Rp.25.000

Tunaikan Zakat, Infaq/Sedekah anda melalui LAZ DPU KALTIM.
TELP Kantor DPU SMD 0541-7773654
SMS/WA: 0811 5555 200
Layanan Jemput Zakat hub: 0811 5555 200
Layanan Transfer Rekening Via Mandiri Syariah an. DPU KALTIM – 041 0060 316

*RamadhanBerkah*
*Harmoni Ramadhan Menebar Cinta*
*LAZDPUKALTIM*
*LEMBAGA ZAKAT ORANG KALTIM*
*BERDAYA DAN MANDIRI*

Read more