+62 21 809-4741
utsmanipusat@gmail.com

Hukum Menyalurkan Zakat Langsung

fenomena masyarakat kita masih banyak vang memberikan zakat langsung ke orang-orang miskin, guru ngaji.

Pertanyaan: 

Apa hukumnya menyalurkan zakat ke mustahik?, apakah di masa Rasulullah juga seperti itu? Terima kasih.

Jawaban:

Menyalurkan zakat secara langsung kepada yang berhak (mustahik), sepanjang semua ketentuan fiqhnya terpenuhi, seperti kadar zakat yang dikeluarkan benar, yang menerima juga benar-benar yang berhak (delapan asnaf), maka hukumnya sah. Untuk menjamin keabsahan tersebut, muzakki harus memiliki keilmuan tentang zakat yang memadai. Karena jika salah dalam menyerahkan zakatnya, ia harus mempertanggung jawabkan sendiri di hadapan Allah SWT. dengan berzakat melalui amil, semua beban pertanggung- jawaban beralih ke pundak amil sepenuhnya.

Di masa Rasulullah SAW semua zakat dibayarkan melalui amil (petugas zakat), kecuali shadaqah-shadaqah yang bersifat sunnah. Oleh karena itu Rasulullah mengangkat banyak petugas zakat (amil) dari para sahabat untuk memungut zakat dari kaum Muslimin yang kaya untuk diberikan kepada yang berhak. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT, “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka” (9.5. 9: 103)

Dengan demikian membayar zakat melalui amil lebih baik daripada langsung, karena diantara kelebihannya adalah:

(1) lebih sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

(2) lebih terjaga keikhlasan muzakki,

(3) mustahik terhindar dari rendah diri saat bertemu langsung dengan muzakli.

(4) lebih efektif dalam mobilisasi dana zakat.

(5) lebih tepat sasaran.

(6) Lebih efesien dan efektif dalam pendayagunaan zakat untuk pengentasan kemiskinan.

(7) lebih berkah karena didoakan oleh amil. Wallahu alam.

Read more

Mengenal Sejarah Zakat

aktivitas pembayaran zakat di gerai DPU

Kewajiban yang dikenal sebagai zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun, permasalahan zakat tidak bisa dipisahkan dari usaha dan penghasilan masyarakat. Demikian juga pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam buku 125 Masalah Zakat karya Al-Furqon Hasbi disebutkan bahwa awal Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, zakat belum dijalankan. Pada waktu itu, Nabi SAW, para sahabatnya, dan segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah) masih disibukkan dengan cara menjalankan usaha untuk menghidupi diri dan keluarganya di tempat baru tersebut. Selain itu, tidak semua orang mempunyai perekonomian yang cukup — kecuali Utsman bin Affan — karena semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki ditinggal di Makkah.

Kalangan anshar (orang-orang Madinah yang menyambut dan membantu Nabi dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah) memang telah menyambut dengan bantuan dan keramah-tamahan yang luar biasa. Meskipun demikian, mereka tidak mau membebani orang lain. Itulah sebabnya mereka bekerja keras demi kehidupan yang baik. Mereka beranggapan pula bahwa tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

Keahlian orang-orang muhajirin adalah berdagang. Pada suatu hari, Sa’ad bin Ar-Rabi’ menawarkan hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, tetapi Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak lama, berkat kecakapannya berdagang, ia menjadi kaya kembali. Bahkan, sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa dagangannya.

Selain Abdurrahman, orang-orang muhajirin lainnya banyak juga yang melakukan hal serupa. Kelihaian orang-orang Makkah dalam berdagang ini membuat orang-orang di luar Makkah berkata, ”Dengan perdagangan itu, ia dapat mengubah pasir sahara menjadi emas.”

Perhatian orang-orang Makkah pada perdagangan ini diungkapkan dalam Alqur’an pada ayat-ayat yang mengandung kata-kata tijarah: ”Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (QS An-Nur:37)

Tidak semua orang muhajirin mencari nafkah dengan berdagang. Sebagian dari mereka ada yang menggarap tanah milik orang-orang anshar. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dan kesukaran dalam hidupnya. Akan tetapi, mereka tetap berusaha mencari nafkah sendiri karena tidak ingin menjadi beban orang lain. Misalnya, Abu Hurairah.

Kemudian Rasulullah SAW menyediakan bagi mereka yang kesulitan hidupnya sebuah shuffa (bagian masjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mereka disebut Ahlush Shuffa (penghuni shuffa). Belanja (gaji) para Ahlush Shuffa ini berasal dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan muhajirin maupun anshar yang berkecukupan. Setelah keadaan perekonomian kaum Muslimin mulai mapan dan pelaksanaan tugas-tugas agama dijalankan secara berkesinambungan, pelaksanaan zakat sesuai dengan hukumnya pun mulai dijalankan. Di Yatsrib (Madinah) inilah Islam mulai menemukan kekuatannya.

Disyariatkan

Ayat-ayat Alqur’an yang mengingatkan orang mukmin agar mengeluarkan sebagian harta kekayaannya untuk orang-orang miskin diwahyukan kepada Rasulullah SAW ketika beliau masih tinggal di Makkah. Perintah tersebut pada awalnya masih sekedar sebagai anjuran, sebagaimana wahyu Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 39: ”Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.

Namun menurut pendapat mayoritas ulama, zakat mulai disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah. Di tahun tersebut zakat fitrah diwajibkan pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal diwajibkan pada bulan berikutnya, Syawal. Jadi, mula-mula diwajibkan zakat fitrah kemudian zakat mal atau kekayaan.

Firman Allah SWT surat Al-Mu’minun ayat 4: ”Dan orang yang menunaikan zakat”. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan zakat dalam ayat di atas adalah zakat mal atau kekayaan meskipun ayat itu turun di Makkah. Padahal, zakat itu sendiri diwajibkan di Madinah pada tahun ke-2 Hijriah. Fakta ini menunjukkan bahwa kewajiban zakat pertama kali diturunkan saat Nabi SAW menetap di Makkah, sedangkan ketentuan nisabnya mulai ditetapkan setelah Beliau hijrah ke Madinah.

Setelah hijrah ke Madinah, Nabi SAW menerima wahyu berikut ini, ”Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Baqarah: 110). Berbeda dengan ayat sebelumnya, kewajiban zakat dalam ayat ini diungkapkan sebagai sebuah perintah, dan bukan sekedar anjuran. Mengenai kewajiban zakat ini ilmuwan Muslim ternama, Ibnu Katsir, mengungkapkan, ”Zakat ditetapkan di Madinah pada abad kedua hijriyah. Tampaknya, zakat yang ditetapkan di Madinah merupakan zakat dengan nilai dan jumlah kewajiban yang khusus, sedangkan zakat yang ada sebelum periode ini, yang dibicarakan di Makkah, merupakan kewajiban perseorangan semata”.

Sayid Sabiq menerangkan bahwa zakat pada permulaan Islam diwajibkan secara mutlak. Kewajiban zakat ini tidak dibatasi harta yang diwajibkan untuk dizakati dan ketentuan kadar zakatnya. Semua itu diserahkan pada kesadaran dan kemurahan kaum Muslimin. Akan tetapi, mulai tahun kedua setelah hijrah — menurut keterangan yang masyhur — ditetapkan besar dan jumlah setiap jenis harta serta dijelaskan secara teperinci.

Menjelang tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah SAW telah memberi batasan mengenai aturan-aturan dasar, bentuk-bentuk harta yang wajib dizakati, siapa yang harus membayar zakat, dan siapa yang berhak menerima zakat. Dan, sejak saat itu zakat telah berkembang dari sebuah praktik sukarela menjadi kewajiban sosial keagamaan yang dilembagakan yang diharapkan dipenuhi oleh setiap Muslim yang hartanya telah mencapai nisab, jumlah minimum kekayaan yang wajib dizakati.

Read more

Zakat Kepada Keluarga Bolehkah ?

Assalamu’alaikum wr wb.

Ust, saya mau bertanya. Bolehkah zakat saya berikan kepada keluarga saya, seperti orang tua atau adik-adik saya? Terima kasih

 

Jawab:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Terima kasih atas pertanyaannya.

Siapa yang berhak mendapatkan zakat telah disebutkan Allah SWT secara jelas di dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 60:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, Amil Zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, juga untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan dan orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah swt”.

Berdasarkan ayat diatas, secara tegas hanya 8 kelompok diatas yang boleh mendapatkan zakat. Keluarga baik orang tua, kakak, adik dan lainnya tidak termasuk kelompok penerima zakat

Adapun orang tua adalah tanggungan atau kewajiban anak jika mereka tidak mampu. Sedangkan keluarga dekat  boleh mendapatkan zakat tapi bukan karena status keluarga melainkan mereka masuk dalam 8 kelompok penerima zakat sebagai mana ayat diatas.

Jika berupa zakat sebaiknya disalurkan melalui Amil atau lembaga zakat karena secara syariah dan tuntunan Rasulullah saw zakat itu tidak disalurkan langsung ke Mustahik melainkan melalui Amil atau lembaga zakat.

Rasulullah mengangkat Amil seperti Mu’adz bin Kanal ke Yaman, Ali bin Abi Thalib, Abu Luthaifah ke Bani Sulaiman untuk memungut zakat orang-orang kaya diantara mereka untuk selanjutnya disalurkan kepada orang-orang miskin diantara mereka pula. Jadi jika merujuk praktek yang dicontohkan Rasulullah dan juga para sahabat maka lebih baik zakat disalurkan melalui Amil atau lembaga zakat.  Hal ini dipertegas oleh Allah  SWT dalam  Al Qur’an surat Atau Taubah 103 “Ambillah (wahai para amil) zakat dari  harta mereka untuk membersihkan  harta dan menyucikan jiwa mereka”.  Bahkan satu-satunya ibadah yang Allah SWT tentukan petugasnya adalah ibadah zakat dengan petugasnya disebut  d Amil zakat. Jadi membayar zakat melalui Amil  atau lembaga lebih ssuai tuntunan Al Qur’an dan tuntunan rasulullah. Menyalurkan zakat melalui Amil juga akan lebih menjaga keikhlasan Muzakki dan lebih  menjaga kemuliaan para Mustahik.

Berbeda halnya dengan sedekah atau infak, justru lebih baik disalurkan untuk keluarga terdekat sebagai mana hadits Rasulullah “sedekah kepada orang Islam adalah sedekah. Sedangkan sedekah kepada keluarga (yang miskin) adalah sedekah sekaligus silaturrahim” (HR. Imam Nasa’i, Ibnu Makah, imam Ahmad).

Wallahu’alam.

Read more