+62 21 809-4741
utsmanipusat@gmail.com

Berinteraksi Dengan Al-Quran 1

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” ( Al Kahfi: 1-3)

Read more

Berinteraksi Dengan Al-quran 2

Hingga rosm (metode penulisan) Al-Qur’an, masih tetap tertulis dan tercetak hingga saat ini, seperti tertulis pada era khalifah Utsman bin Affan r.a., meskipun metode dan kaidah penulisan telah berkembang jauh. Hingga saat ini, tidak ada suatu pemerintah muslim atau suatu organisasi ilmiah pun, yang berani merubah metode penulisan Al-Qur’an itu, dan menerapkan kaidah-kaidah penulisan yang berlaku bagi seluruh buku, media cetak, koran dan lainnya yang ditulis dan dicetak, bagi Al-Qur’an.

Read more

Berinteraksi Dengan Al-quran 3

Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan oleh Allah SWT mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibanding kitab suci lainnya. Ia adalah kitab Ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan dimudahkan untuk dipahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keautentikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.

Read more

7 Kebiasaan Tidur Sehat ala Rasulullah SAW

Ada tujuh kebiasaan tidur sehat ala Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam yang bisa ditiru. Sudah terbukti, dengan kebiasaan tersebut, Rasulullah selama hidupnya hanya mengalami dua kali sakit.

Selain itu, seperti firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah sebaik-baik uswah hasanah (teladan).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nah berikut ini 7 kebiasaan tidur sehat ala Rasulullah SAW yang bisa diteladani:

1. Posisi Tidur Miring ke Kanan

Tidur Rasulullah menghadap ke kanan. Dalam HR Al-Bukhari no 247 dan Muslim no 2710, Nabi Muhammad SAW mengatakan agar, “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.”

2. Meletakkan Tangan di Bawah Pipi

Dan dari Hudzaifah ibn al-Yaman ra, dia berkata, “Apabila Nabi SAW hendak tidur pada malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya.” (HR. Bukhari).

3. Meniupkan Kedua Tangan dan Membaca Doa

Dari Aisyah ra, dia berkata, “Apabila Rasulullah SAW hendak tidur, beliau meniup kedua tangannya dan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, lalu beliau mengusap badannya dengan kedua tangannya.” (HR. Bukhari).

Kebiasaan tidur sehat Rasulullah SAW juga sebelum tidur adalah dengan meniupkan kedua tangan dan membaca doa lalu mengusapkan ke seluruh badan.

4. Tidak Tidur Sebelum Isya

Hadis dari Abu Barzah ra, dia berkata, “Bahwasanya Rasulullah SAW tidak menyukai tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang sesudahnya.” (HR. Bukhari).

5. Tidur pada Awal Malam dan Bangun pada Akhir Malam

Aisyah ra berkata, “Beliau tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam kemudian melaksanakan shalat.” (Muttafaq Alaih).

6. Tidur Hanya Beralas Tikar

Abdullah ibn Mas’ud ra berkata, “Rasulullah SAW bisa tidur di atas tikar, dan ketika beliau bangun, tampak bekas guratan tikar pada bahunya. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami ingin membuatkan kasur untukmu.’ Kata beliau, ‘Apalah artinya dunia ini bagiku? Aku di dunia ini hanyalah laksana seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon, dia beristirahat dan kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi)

7. Tidak Menyukai Tidur Tengkurap

Kebiasaan tidur sehat ala Rasulullah berikutnya adalah dengan tidak dalam posisi tengkurap. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW melihat seseorang berbaring (tidur) dengan posisi tengkurap, maka beliau pun bersabda, “Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah.” (HR. Ahmad).

Demikian tuntunan cara tidur yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Mari kita amalkan dalam aktivitas istirahat kita agar memberikan dampak positif pada setiap rutinitas. Jaga kesehatan ya sobat DPU

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4759003/7-kebiasaan-tidur-sehat-ala-rasulullah-saw-yang-perlu-ditiru/2

Read more

Hukum Menyalurkan Zakat Langsung

fenomena masyarakat kita masih banyak vang memberikan zakat langsung ke orang-orang miskin, guru ngaji.

Pertanyaan: 

Apa hukumnya menyalurkan zakat ke mustahik?, apakah di masa Rasulullah juga seperti itu? Terima kasih.

Jawaban:

Menyalurkan zakat secara langsung kepada yang berhak (mustahik), sepanjang semua ketentuan fiqhnya terpenuhi, seperti kadar zakat yang dikeluarkan benar, yang menerima juga benar-benar yang berhak (delapan asnaf), maka hukumnya sah. Untuk menjamin keabsahan tersebut, muzakki harus memiliki keilmuan tentang zakat yang memadai. Karena jika salah dalam menyerahkan zakatnya, ia harus mempertanggung jawabkan sendiri di hadapan Allah SWT. dengan berzakat melalui amil, semua beban pertanggung- jawaban beralih ke pundak amil sepenuhnya.

Di masa Rasulullah SAW semua zakat dibayarkan melalui amil (petugas zakat), kecuali shadaqah-shadaqah yang bersifat sunnah. Oleh karena itu Rasulullah mengangkat banyak petugas zakat (amil) dari para sahabat untuk memungut zakat dari kaum Muslimin yang kaya untuk diberikan kepada yang berhak. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT, “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka” (9.5. 9: 103)

Dengan demikian membayar zakat melalui amil lebih baik daripada langsung, karena diantara kelebihannya adalah:

(1) lebih sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

(2) lebih terjaga keikhlasan muzakki,

(3) mustahik terhindar dari rendah diri saat bertemu langsung dengan muzakli.

(4) lebih efektif dalam mobilisasi dana zakat.

(5) lebih tepat sasaran.

(6) Lebih efesien dan efektif dalam pendayagunaan zakat untuk pengentasan kemiskinan.

(7) lebih berkah karena didoakan oleh amil. Wallahu alam.

Read more

Mengenal Sejarah Zakat

aktivitas pembayaran zakat di gerai DPU

Kewajiban yang dikenal sebagai zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Namun, permasalahan zakat tidak bisa dipisahkan dari usaha dan penghasilan masyarakat. Demikian juga pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dalam buku 125 Masalah Zakat karya Al-Furqon Hasbi disebutkan bahwa awal Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, zakat belum dijalankan. Pada waktu itu, Nabi SAW, para sahabatnya, dan segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah) masih disibukkan dengan cara menjalankan usaha untuk menghidupi diri dan keluarganya di tempat baru tersebut. Selain itu, tidak semua orang mempunyai perekonomian yang cukup — kecuali Utsman bin Affan — karena semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki ditinggal di Makkah.

Kalangan anshar (orang-orang Madinah yang menyambut dan membantu Nabi dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah) memang telah menyambut dengan bantuan dan keramah-tamahan yang luar biasa. Meskipun demikian, mereka tidak mau membebani orang lain. Itulah sebabnya mereka bekerja keras demi kehidupan yang baik. Mereka beranggapan pula bahwa tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

Keahlian orang-orang muhajirin adalah berdagang. Pada suatu hari, Sa’ad bin Ar-Rabi’ menawarkan hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, tetapi Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Di sanalah ia mulai berdagang mentega dan keju. Dalam waktu tidak lama, berkat kecakapannya berdagang, ia menjadi kaya kembali. Bahkan, sudah mempunyai kafilah-kafilah yang pergi dan pulang membawa dagangannya.

Selain Abdurrahman, orang-orang muhajirin lainnya banyak juga yang melakukan hal serupa. Kelihaian orang-orang Makkah dalam berdagang ini membuat orang-orang di luar Makkah berkata, ”Dengan perdagangan itu, ia dapat mengubah pasir sahara menjadi emas.”

Perhatian orang-orang Makkah pada perdagangan ini diungkapkan dalam Alqur’an pada ayat-ayat yang mengandung kata-kata tijarah: ”Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (QS An-Nur:37)

Tidak semua orang muhajirin mencari nafkah dengan berdagang. Sebagian dari mereka ada yang menggarap tanah milik orang-orang anshar. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dan kesukaran dalam hidupnya. Akan tetapi, mereka tetap berusaha mencari nafkah sendiri karena tidak ingin menjadi beban orang lain. Misalnya, Abu Hurairah.

Kemudian Rasulullah SAW menyediakan bagi mereka yang kesulitan hidupnya sebuah shuffa (bagian masjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mereka disebut Ahlush Shuffa (penghuni shuffa). Belanja (gaji) para Ahlush Shuffa ini berasal dari harta kaum Muslimin, baik dari kalangan muhajirin maupun anshar yang berkecukupan. Setelah keadaan perekonomian kaum Muslimin mulai mapan dan pelaksanaan tugas-tugas agama dijalankan secara berkesinambungan, pelaksanaan zakat sesuai dengan hukumnya pun mulai dijalankan. Di Yatsrib (Madinah) inilah Islam mulai menemukan kekuatannya.

Disyariatkan

Ayat-ayat Alqur’an yang mengingatkan orang mukmin agar mengeluarkan sebagian harta kekayaannya untuk orang-orang miskin diwahyukan kepada Rasulullah SAW ketika beliau masih tinggal di Makkah. Perintah tersebut pada awalnya masih sekedar sebagai anjuran, sebagaimana wahyu Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 39: ”Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.

Namun menurut pendapat mayoritas ulama, zakat mulai disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah. Di tahun tersebut zakat fitrah diwajibkan pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal diwajibkan pada bulan berikutnya, Syawal. Jadi, mula-mula diwajibkan zakat fitrah kemudian zakat mal atau kekayaan.

Firman Allah SWT surat Al-Mu’minun ayat 4: ”Dan orang yang menunaikan zakat”. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan zakat dalam ayat di atas adalah zakat mal atau kekayaan meskipun ayat itu turun di Makkah. Padahal, zakat itu sendiri diwajibkan di Madinah pada tahun ke-2 Hijriah. Fakta ini menunjukkan bahwa kewajiban zakat pertama kali diturunkan saat Nabi SAW menetap di Makkah, sedangkan ketentuan nisabnya mulai ditetapkan setelah Beliau hijrah ke Madinah.

Setelah hijrah ke Madinah, Nabi SAW menerima wahyu berikut ini, ”Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Baqarah: 110). Berbeda dengan ayat sebelumnya, kewajiban zakat dalam ayat ini diungkapkan sebagai sebuah perintah, dan bukan sekedar anjuran. Mengenai kewajiban zakat ini ilmuwan Muslim ternama, Ibnu Katsir, mengungkapkan, ”Zakat ditetapkan di Madinah pada abad kedua hijriyah. Tampaknya, zakat yang ditetapkan di Madinah merupakan zakat dengan nilai dan jumlah kewajiban yang khusus, sedangkan zakat yang ada sebelum periode ini, yang dibicarakan di Makkah, merupakan kewajiban perseorangan semata”.

Sayid Sabiq menerangkan bahwa zakat pada permulaan Islam diwajibkan secara mutlak. Kewajiban zakat ini tidak dibatasi harta yang diwajibkan untuk dizakati dan ketentuan kadar zakatnya. Semua itu diserahkan pada kesadaran dan kemurahan kaum Muslimin. Akan tetapi, mulai tahun kedua setelah hijrah — menurut keterangan yang masyhur — ditetapkan besar dan jumlah setiap jenis harta serta dijelaskan secara teperinci.

Menjelang tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah SAW telah memberi batasan mengenai aturan-aturan dasar, bentuk-bentuk harta yang wajib dizakati, siapa yang harus membayar zakat, dan siapa yang berhak menerima zakat. Dan, sejak saat itu zakat telah berkembang dari sebuah praktik sukarela menjadi kewajiban sosial keagamaan yang dilembagakan yang diharapkan dipenuhi oleh setiap Muslim yang hartanya telah mencapai nisab, jumlah minimum kekayaan yang wajib dizakati.

Read more

Mengapa Harus Berzakat?

Sebagai salah satu pilar penopang agama, zakat memang merupakan ibadah yang memiliki keunikan tersendiri. Jika dibandingkan dengan sholat, puasa, ataupun haji yang jelas-jelas mengedepankan nilai spiritual atau ke-Tuhan-an yang begitu tinggi, sekilas zakat terlihat berbeda. Tanpa mengesampingkan nilai-nilai tersebut, justru kandungan nilai sosial lah yang nampak begitu jelas pada rukun Islam yang satu ini. Pengamalan dan pemaknaan terhadap zakat dapat mencerminkan kepedulian seorang muslim pada sesama. Mengapa? Karena jelas sasaran dari zakat adalah orang-orang yang berhak menerima bantuan. Dengan pemberian tersebut, tentu kualitas hidup mereka akan meningkat. Hal ini menandakan bahwa Islam ternyata mengatur bagaimana seorang muslim dapat hidup secara seimbang, yaitu memerhatikan aspek hubungan dengan Allah maupun dengan manusia lainnya.

Selain itu, zakat juga memiliki fungsi untuk menyucikan harta yang telah diperoleh. Alasannya, karena kita telah menunaikan hak orang lain pada sebagian harta yang kita miliki. Dengan kata lain, harta yg telah diberikan zakatnya sudah menjadi hak penuh milik kita sehingga menjadi lebih berkah.

Selain harta yang berkah, zakat juga menjadikan jiwa seorang muslim menjadi lebih suci dan tentram. Tidak hanya itu, dengan berzakat, seorang muslim akan dicukupkan rezekinya oleh Allah. Sesuai dengan pengertian secara bahasa, zakat memang berarti ‘tumbuh’, ‘bersih’, dan ‘berkembang’.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. At-taubah:103)

“Hai Anak Adam, bersedekahlah, karena pasti akan dicukupkan (diberikan) nafkah (rezeki) atasmu.” (HR Bukhari Muslim)

Dan di atas itu semua, zakat menjadi suatu keharusan karena ia merupakan perintah Allah SWT. Bahkan, perintah membayarkan zakat bagi seorang muslim begitu penting sehingga terdapat 27 ayat dalam Al-Quran yang menyejajarkan zakat dengan perintah sholat. Salah satunya adalah:

”Dan  dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.” (Q.S. Al-Baqarah: 43)

Selain itu, dalam sebuah hadits Rasulullah juga menyatakan bahwa zakat merupakan salah satu amal sentral yang menjadi penopang agama Islam.

“Islam ditegakkan di atas lima perkara, yaitu mengesakan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan Haji.” (HR Bukhari Muslim)

—-

Wujud kepedulian sosial, penyuci harta, serta kewajiban terhadap perintah Allah SWT. Itulah alasan mengapa seorang muslim wajib untuk menunaikan zakat. Jadi, tunggu apalagi? 🙂

 

sumber https://generasizakat.wordpress.com/2012/12/30/mengapa-harus-berzakat/

Read more